HARI PERDANA BERKEMBARA DI KAMPUNG BALANGTANGNGA

Oleh : | Pada : 29 November 2014 | Dilihat Sebanyak 2050 Kali

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Tak salah lagi kalau Fakultas Kedokteran UNHAS adalah yang nomor wahid di NKRI. UNHAS adalah penyelenggara pertama program Satu Mahasiswa, Satu Ibu Hamil, Satu Bayi untuk1000 hari kehidupan. Yaitu program yang sangat mulia yang bertujuan mengurangi angka kematian ibu. Kita tahu bahwa di tahun 2013 sekitar 359 kasus per 100.000 kelahiran atau dengan kata lain dengan 400 pesawat(yang isinya ibu hamil semua) yang jatuh setiap tahunnya begitu banyaknya angka kematian ibu di Indonesia. Akupun merasa seperti di berada di ruang yang sempit dingin penuh kertak gigi dan sepertinya detak jantungku di-pause mendengar,melihat data ini. Kemudian aku merasa terjun menembus kaca hingga pecah dan jiwaku terbakar ingin rasanya mengontraksikan seluruh otot ditubuh ini dan melompat setinggi-setingginya dan mengatakan kalau aku ingin berperan dalam mengurangi secara signifikan angka kematian ibu. Dan momennya memang pas di kala program Satu Mahasiswa, Satu Ibu Hamil, Satu Bayi untuk1000 hari kehidupan dijalankan untuk kami maba FK UNHAS 2014. 

Saya mendapat info tentang Ibu hamil dari teman sejawat saya dan besoknya langsung saya kunjungi. Jarak dari rumahku dengan rumah ibu hamil yang aku pilih itu lumayan jauh. Apalagi sore itu sedang hujan tapi itu tak menyurutkan niatku untuk bertemu sang bumil (ibu hamil). Masuk gerbang perumahan citra permata sudiang, jalan terus terus terus belok belok belok hingga masuk lorong putar putar dan sampailah ke tempat yang boleh dikata tidak layak tinggal. Disitu rumah kecil-kecil dan dempet-dempet yang hampir kesuluruhan adalah rumah kayu. Nama daerah ini adalah kampung balangtangnga kelurahan pai. Sangatlah aneh di dalam perumahan elit ternyata ada seperti ruang rahasia tersembunyi yang ditempati oleh keluarga kurang mampu. Aku merasa kasihan melihat keadaan ini. Terlepas dari semua itu aku harus terus jalan menuju ke rumah ibu hamil terpilih. Selamat sore Bu saya Mahasiswa FK UNHAS bla bla bla bla disitulah saya dengan sopan formal memperkenalkan diri dan meminta izin untuk melakukan aksi selanjutnya. Setelah serangkaian proses berlalu saya menangkap bahwa Ibu hamil yang telah mengandung selama 7 bulan lebih ini bernama Ina tapi nama kampungnya yang tertera di KTP adalah Ramlah. Suaminya bernama Rusli. Sepertinya memang mereka jodoh karena R-R namanya terus mereka lahir di tahun yang sama yaitu 1987. Kali ini Bu Ina hamil anaknya yang ke - 3. Kata Bu Ina, semoga anak ke- 3 nya adalah anak perempuan. Itu artinya anaknya selang seling dengan laki-laki di tengah. Ya anak pertama bu Ina adalah perempuan  yang berusia 5 tahun dan anak ke-2 berjenis kelamin lelaki dan baru berumur 18 bulan. Bisa dibayangkan perjuangan merawat anak oleh Bu Ina yang bersuamikan Pak Rusli yang pada saat musim hujan stop bekerja bentor dan beralih menjadi buruh bangunan. Ibu Ina ketika aku foto dia bilang silakan ananda foto diriku dan rumahku yang berantakan ini supaya dilihat oleh pemerintah sembari tertawa. Terlukis di wajahnya rasa lelah yang terakumulasi ditandai dengan dia mengusap kepala dengan tatapan kosong. Lanjut aku memberikannya undangan yang isinya mengikuti serangkaian acara launching program yang akan ibu jalani. Sebelum pulang aku menyempatkan diri memfoto rumah Ibu Ina dan tentunya foto bersama Ibu Ina. Sebenarnya butuh perjuangan untuk bisa foto berdua dengan Ibu Ina, soalnya anaknya yang baru 18 bulan lengket terus digendong oleh mama tercinta. Untung ada tetangga yang menggendong sementara adik kecil itu tapi tetap saja tangisan keras terdengar. Kemudian setelah semuanya itu, saya pamit dan pulang berlari menuju kendaraan karena memang saat itu hujan deras. Aku pulang ke rumah dan terjun bebas tidur



Leave A Reply